Rabu, 05 Mei 2021

Curhatan sang butiran debu

 

Bersinggah di bawah kaki Gunung Ciremai

Perjalanan berawal ketika aku baru lulus sekolah menengah kejuruan atau setara dengan sekolah menengah atas (SMA), disitulah aku di terpa dengan banyak dilema ,harus kemanakah aku melanjutkan pendidikan, karena bagi keluarga ku pendidikan itu adalah suatu hal yang sangat penting. Terlepas dari itu aku seorang anak sulung yang di tuntut menjadi figur kesuksesan bagi adik adik tentunya aku harus betul betul memperhatikan masa depan yang gemilang.

Mempunyai niat untuk berkuliah di timur tengah adalah sebuah impianku dari dulu ,khususnya di Mesir ,negeri dimana para nabi di utus, negeri yang menyimpan khazanah keislaman yang luar biasa, hingga saat itu aku mencari-cari informasi tentang nya, dan sudah siap menempuh ke step selanjutnya. Namun ketika di tengah jalan , Allah mempunyai rencana yang lain ,dan tentunya rencana nya lebih baik dan lebih indah . Hingga akhir nya aku bisa menginjakan kaki di tanah Al-Multazam ini yang tempat nya dekat dengan kaki gunung Ciremai yang merupakan paku bumi yang paling tinggi di jawa barat.

Suatu tempat yang belum sama sekali aku singgahi namun akhirnnya bisa menetap tenang  dengan penuh kenangan. Tempat nya kecil tapi jiwaku seakan menjadi besar ketika berlabuh di tempat itu, tergambar segala harapan, terukir segala impian, dan tecipta segala cita cita. Karena aku yakin , Almamater ini akan menjadi Washilah demi terwujud nya segala yang di inginkan , tentunya tak banyak yang aku inginkan  selain dari berusaha menjadi seorang diri yang berjiwa besar dan menjalankan misi yang sangat besar. Yaitu berdakwah menyampakan risalah ilahi dan mengabdi di bumi Pertiwi.

Kurang lebih baru hampir 4 tahun aku menikmati perjuangan di almamater ini, suka duka ku syukuri  karena hidup memang terkadang tak selamanya di hiasi dengan pelangi, adakalanya kita akan menemukan duri. Aku tak bisa mencurahkan rekam jejak yang sangat lengkap ,cukup sekelumit saja mudah mudahan manfaat.

Waktu fajar menjadi tanda untuk Start untuk mewujudkan mimpi, wajah anak anak SMA yang nampak segar meskipun terlihat ada rasa kantuk di mata nya, hingga matahari terbit, ku  bersama mereka mengeja kitab Al-Quran yang mulia. Hingga matahari tampak naik ku langkahkan kaki, ku beranikan jiwa, ku siapkan segenap kemampuan, ku setorkan ayat demi ayat yang telah aku hafalkan ,hingga akhir nya aku mampu mengakhatamkan dari setiap juz nya. Hal yang paling membahagiakan dalam hidup ku itu ketika diriku berhasil mengakhatamkan semuanya.  Ku lanjutkan cerita, teriknya matahari tak menjadi alasan untuk ku, untuk tidak bersemangat Tolabul ilmi dan menjalankan tridarma perguruan tinggi, setiap SKS nya ku nikmati sepenuh hati ,bersama kawan kawan yang tangguh ,dan dosen yang hebat dan berilmu.

Tak hanya demikian banyak sekelumit kenangan dan pengalaman yang tak akan terlupakan ,bahkan mungkin maut memisahkan. Ketika aku di utus menjadi delegasi ajang dari setiap perlombaan ,bukan hadiah dan prestasi yang Ku inginkan namun ku berusaha untuk mensyiarkan apa yang ku hafalkan, meskipun banyak sekali kekurangan.

Para pembaca yang Budiman, salah satu kebahagiaan itu ketika kita mampu berusaha menjadi manusia yang mempunyai nilai manfaat bagi yang lain ,karena manusia di Ciptakan bukan sekedar untuk hidup ,namun di ciptakan untuk hidup dan membawa kehidupan,kemanfaatan,dan peradaban. Salah satu hal yang tak pernah di dugaan di almamater ini ketika aku mendapat amanah dan tanggung jawab yang besar di organisasi  bukan tujuan untuk popularitas semata namun untuk berusaha supaya hidup menjadi lebih bernilai.

Duhai sob, di tempat ini juga ku menemukan para kesatria hebat yang sangat berjasa dalam membangun negeri, ya jelas sekali mereka adalah guru guru ku yang hebat, meskipun aku baru 4 tahun di tempat itu namun begitu terasa mereka seperti layak nya orang tua ku, semua petuah dan kasih sayang nya begitu tulus, dari mulai sosok Kadiv perguruan tinggi yang dalam ilmu nya dan tawadhu hatinya, sosok menginspirasi rektor ku yang luas akan ilmu dan pengalaman namun hatinya begitu lembut dan mengayomi siapapun yang ada di depan nya.

Demikian rangkuman kisah yang bisa ku sajikan,meskipun tak lengkap dari setiap episode kehidupan ,mudah mudahan jadi bahan untuk renungan dan  saling berbagi pengalaman. Karena disini ku banyak sekali menemukan banyak kenikmatan dan keajaiban .

Ketika aku menghafal kalam-Nya, ku temukan banyak kenikmatan

Ketika aku berusaha mendalami ilmu nya, ku serasa menyelami samudra yang sangat luas dan dalam.

Ketika aku berjuang di Medan dakwah dan organisasi ,ku temukan arti hidup yang sesungguhnya.

Ayo tunggu apa lagi, segera daftarkan diri anda ,untuk berjuang bersama, dan sukses bersama ,di STIQ AL-MULTAZAM

 

"SALAM MAHASISWA"

"DARI KUNINGAN UNTUK DUNIA"


-Silahkan kunjungi Website kami : stiq-almultazam.ac.id

-segera daftarkan diri anda di : stiqalmultazam.siakad.net/pmb

-Link Youtube : www.youtube.com/stiqalmultazamofficial


POTRET KAMI






Jumat, 11 Desember 2020

Materi Manahij Al-Mufassirin

 BIOGRAFI AT-THABARI

A. Tafsir al-Thabari ( Jami‘ al - Bayan  An Ta‘wil Ay al - Qur‘an ) 

1. Biografi al-Thabari

Sejarah kehidupan al-Thabari tidak jauh berbeda denga mufasir lainnya.  Mulai dari karir pendidikan, intelektual, pemetaan tafsir, hingga pada ranah politik. Nama lengkap dia  adalah Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Khalid al-Thabari, ada pula yang mengatakan Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Thabari.1 Ia dilahirkan di Amil, Ibu kota Tabaristan 224  hijriah2. Beliau merupakan salah seorang ilmuwan yang sangat mengagumkan dalam kemampuannya mencapai tingkat tertinggi dalam berbagai disiplin ilmu, antara lain fiqih  (hukum Islam) sehingga pendapat-pendapatnya yang terhimpun dinamai Mazhab Al-Jaririyah. 

Hidup dilingkungan yang mendukung penuh karir intelektual al-Thabari, tidak heran jika di waktu usia 7 tahun sudah hafal Al-Quran. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh al-Thabari Aku  telah  menghafal  al-Qur‘an  ketika  berusia  tujuh  tahun  dan menjadi imam shalat ketika aku berusia delapan tahun serta mulai menulis  hadis–hadis nabi pada usia sembilan tahun.

Abu Ja‘far al-Thabari (Sebutan Abu Ja‘far) bukanlah penisbatan, sebagaimana  budaya  Arab  tatkala  menyebut  nama  seorang  ayah  dengan  Abu Fulan. Abu Ja‘far adalah panggilan kehormatan bagi al-Thabari karena kebesaran dan kemuliaannya.5 al-Thabari mulai menuntut ilmu ketika ia berumur 12 tahun,  yaitu    pada tahun 236 hijriah di tempat kelahirannya. Setelah al-Thabari menuntut ilmu pengetahuan  dari  para  ulama-ulama  terkemuka  di  tempat  kelahirannya,  seperti kebiasaan ulama-ulama lain pada waktu itu Ibnu Jarir dalam menuntut ilmu pengetahuan mengadakan perjalanan kebeberapa daerah Islam.Dalam bidang sejarah dan Fiqih, al-T{abari berangkat menuju Baghdad untuk menemui Imam Ahmad bin Hambal, tetapi diketahui telah wafat sebelum Ibnu Jarir sampai di negeri tersebut, untuk itu perjalanan dialihkan menuju ke Kufah dan di negeri ini mendalami hadis dan ilmu-ilmu yang berkenaan dengannya. Kecerdasan dan kekuatan hafalannya telah membuat kagum ulama- ulama di negeri itu. Kemudian al-Thabari berangkat ke Baghdad di sana mendalami ilmu-ilmu al-Qur‘an dan fiqih Imam Syafi'i pada ulama-ulama terkemuka di negeri tersebut, selanjutnya berangkat ke Syam untuk mengetahui aliran-aliran fiqih dan pemikiran-pemikiran yang ada di sana. Kota Bagdad, menjadi domisili terakhir al-Thabari, sejumlah karya telah berhasil ia telurkan dan akhirnya wafat pada Senin, 27 Syawwal 310  H bertepatan dengan 17 Februari 923M. Kematiannya dishalati oleh  masyarakat Muhammad Bakr Isma‘il, Ibnu Jarir Wa Manhajuhu fi al-Tafsir.siang dan malam hari hingga beberapa waktu setelah wafatnya.8  Ia wafat pada usia 86 tahun, yaitu pada tahun 310 Hijriah.9 Imam al-T{abari juga sangat terkenal di Barat, biografinya pertama kali diterbitkan di Laiden pada tahun 1879-1910. 

Julius Welhousen menempatkan itu ketika membicarakan zaman (660-750) dalam buku The Arab Kingdom and its Fall.10 Yang lain, Ibn Khillikan berkata, la termasuk imam mujtahid dan tidak bertaklid kepada siapapun. Dan sebelum sampai ke tingkat mujtahid, tampaknya ia  pengikut madzhab Syafi'i. A1-Khathib berkata, la salah seorang ilmuwan terkemuka. Pendapatnya menjadi pendapat hukum dan menjadi rujukan karena pengetahuan dan keutamaannya. la telah menghimpun ilmu yang tiada duanya pada masanya.

Karir pendidikan diawali dari kampung halamannya Amil tempat yang cukup kondusif untuk membangun struktur fondamental awal pendidikan alThabari, al-T{abari diasuh oleh ayahnya sendiri, kemudian dikirim ke Rayy, Basrah, Kufah, Siria dan Mesir dalam rangka " travelling in quest of knowledge" (ar-Rihlah Talab A’jijm) dalam usia yang masih belia. Sehingga namanya bertambah populer di kalangan masyarakat karena otoritas keilmuannya. Di Rayy al-T{abari berguru kepada Ibnu Humaid, Abu Abdallah Muhammad bin Humaid al-Razi, disamping ia juga menimba ilmu dari al Musanna bin Ibrahim al-Ibili, khusus dibidang hadis.                                            

Baghdad berekpetasi untuk studi kepada Ahmad bin Hambal (164-241 H / 780 855 M), ternyata ia telah wafat, kemudian segera putar haluan menuju dua kota besar Selatan Baghdad, yakni Basrah dan Kufah, sambil mampir ke Wasit karena satu jalur perjalanan dalam rangka studi dan riset. Di Basrah al-Thabari berguru kepada Muhammad bin ' Abd al-A'la al-Shan'ani (w. 245 H / 859 M), Muhammad bin Musa al-Harasi (w. 248 H / 862 M) dan Abu al-As'as Ahnmad bin al-Miqdam (W. 253  H/867  M),  disamping  kepada  Abu  al-Jawza'  Ahmad  bin  Usman   (246/860). Khusus bidang tafsir al-Thabari berguru kepada seorang Basrah Humaid bin Mas'adah dan Bisr bin Mu'az al-'Aqadi (w. akhir 245 H / 859-860 M ), meski sebelumnya pemah banyak menyerap pengetahuan tafsir dari seorang Kufah 

Hannad bin al-Sari (w. 243 H / 857 M ).12  

2. Karya Al-Thabari 

Dalam dunia ilmu pengetahuan, al-T{abari terkenal tekun mendalami bidang-bidang ilmu yang dimilikinya, juga gigih dalam menambah ilmu pengetahuan. Sehingga dengan itu, banyak bidang ilmu yang dikuasainya. Di samping itu, al-Thabari mampu menuangkan ilmu-ilmu yang dikuasainya ke dalam bentuk tulisan. Kitab-kitab karangannya mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti: tafsir, hadis, fikih, tauhid, ushul fikih, dan ilmu-ilmu bahasa Arab, juga ilmu Kitab-kitab karya al-Thabari akan tetapi, tidak diperoleh informasi yang pasti berapa banyak buku yang pernah ditulisnya, Karena karya-karya al-Thabari tidak semuanya sampai ke tangan kita sekarang. Diperkirakan banyak karyanya yang berkaitan dengan hukum lenyap bersamaan dengan lenyapnya Madzhab Jaririyah.

Lewat karya tulisnya yang cukup banyak dan sebagian besar dalam bentuk kumpulan riwayat hadis dengan bahasa yang sangat indah, al-Thabari bukan saja terkenal seorang ilmuwan yang agung melainkan juga sebagai orang yang dikagumi berbagai pihak. Semua karya ilmiah al-Thabari yang diwariskan kepada kita, sebagian diketemukan dan sebagian yang lain belum diketemukan. 

Diantara karya-karyanya seperti; 

-  Adab al-Manasik,  

- Tarikh al-Umam wa al-Muluk atau kitab Ikhbar ar-Rasul al-Muluk.34 

- Jami‘ al-Bayan  An Ta‘wil Ay al-Qur‘an atau dikenal pula dengan Jami‘ al - Bayan  An Tafsir Ay al- Qur‘an . Kitab ini dicetak menjadi 30 juz di Kairo  pada tahun 1312 H. oleh al-Mathba‘ah al-Maimunah, kemudian dicetak kembali yang lebih bagus oleh al-Mathba‘ah al-Umairiyah antara tahun 1322- 1330 H. sebagaimana yang diterbitkan oleh Dar al-Ma‘arif Mesir edisi terbayang ditahqiq oleh Muhammad Mahmud Syakir .menjadi 15 jilid/ 

- Ikhtilaf Ulama‘ al-Amsar fi Ahkam Syara‘i al-Islam. Manuskrip ini ditemukan diperpustakaan Berlin. Kitab tersebut telah disebarluaskan oleh Doktor Frederick  dan dicetak oleh percetakan al-Mausu‘at di Mesir pada tahun 1320  H / 1902 M dengan jusul Ikhtilaf Fuqaha‘.

- Tahdzib  al-Asar 

wa  Tafsil  al - Sabitan  Rasulillah  min  al - Akbar, yang dinamakan oleh al-Qathi  dengan Syarh al-Asar. Dan masih banyak lagi kitab-kitab beliau yang tidak kami sebutkan  disini. Selain banyaknya bidang keilmuan yang disentuh, bobot karya-karya al- Thabari sangat dikagumi para ulama dan peneliti. Al-Hasan ibn Ali al-Ahwazi, ulama qira‘at, menyatakan, Abu Ja`far (Al-Thabari) adalah seorang ulama fiqih, hadits,  tafsir,  nahwu,  bahasa  dan  `arudh.  Dalam  semua  bidang  tersebut     dia melahirkan karya bernilai tinggi yang mengungguli karya para pengarang lain. 

B. Tafsir ( Jami‘ al - Bayan  An Ta‘wil Ay al - Qur‘an ) 

1. Sejarah Penulisan  

Kitab tafsir karya al-T{abari adalah Jami al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an adalah nama yang lebih masyhur, sedangkan nama yang diberikan oleh al-Thabari adalah Jami al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an, ditulis pada akhir kurun yang ketiga dan mulai mengajarkan kitab karangannya ini kepada para muridnya dari tahun 283 sampai tahun 290 hijriah.

Tafsir ini terdiri dari 30 juz yang masing-masing berjilid tebal dan besar, Kitab karya al-Thabari ini kemudian dicetak untuk pertama kalinya ketika beliau berusia 60 tahun ( 284 H/899 M ). Dengan terbitnya tafsir at- Thabari ini terbukalah khazanah  ilmu tafsir.                                  

Disebutkan bahwa  tafsir  Ibnu  Jarir  al-T{abari  ini  merupakan  tafsir yang  pertama di antara sekian banyak kitab-kitab tafsir pada abad-abad pertama, juga sebagai tafsir pertama pada waktu itu karena merupakan kitab tafsir yang  pertama yang diketahui, sedangkan kitab-kitab tafsir yang mungkin ada sebelumnya telah hilang ditelan peradaban waktu atau zaman.Syekh al-Islam Taqi ad-Din Ahmad bin Taimiyah pernah ditanya tentang tafsir yang manakah yang lebih dekat dengan al-Qur‘an dan As-Sunnah? Beliau menjawab bahwa di antara semua tafsir yang ada pada kita, tafsir Muhammad bin Jarir al-Thabari lah yang paling otentik.  

Seorang  pemikir  kontemporer  pun dari  Al-Jazair  M.  Arkoun  dalam   buku Berbagai Pembacaan al-Qur’an mengatakan tafsir al-Thabari ini telah mendapatkan kewenangan yang tiada tara baik di kalangan kaum muslimin maupun di kalangan Islamolog. al-Thabari telah mengumpulkan dalam sebuah karya monumental yang terdiri dari tiga puluh jilid, satu jumlah yang mengesankan dari Akhbar (sekaligus berita, cerita-cerita, tradisi-tradisi dan informasi-informasi) yang tersebar di timur tengah yang bersuasana Islam selama tiga abad hijriyah. Dokumen yang sangat penting bagi sejarah ini belum dijadikan obyek monografi apapun yang mengakhiri gambaran mengenai al-Thabari sebagai mufassir yang "rakus obyektif" dengan ketidak perduliaannya akan isi berita- berita yang diriwayatkannya.

Wallahua'lam.

Curhatan sang butiran debu

  Bersinggah di bawah kaki Gunung Ciremai Perjalanan berawal ketika aku baru lulus sekolah menengah kejuruan atau setara dengan sekolah me...