Jumat, 11 Desember 2020

Materi Manahij Al-Mufassirin

 BIOGRAFI AT-THABARI

A. Tafsir al-Thabari ( Jami‘ al - Bayan  An Ta‘wil Ay al - Qur‘an ) 

1. Biografi al-Thabari

Sejarah kehidupan al-Thabari tidak jauh berbeda denga mufasir lainnya.  Mulai dari karir pendidikan, intelektual, pemetaan tafsir, hingga pada ranah politik. Nama lengkap dia  adalah Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Khalid al-Thabari, ada pula yang mengatakan Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Thabari.1 Ia dilahirkan di Amil, Ibu kota Tabaristan 224  hijriah2. Beliau merupakan salah seorang ilmuwan yang sangat mengagumkan dalam kemampuannya mencapai tingkat tertinggi dalam berbagai disiplin ilmu, antara lain fiqih  (hukum Islam) sehingga pendapat-pendapatnya yang terhimpun dinamai Mazhab Al-Jaririyah. 

Hidup dilingkungan yang mendukung penuh karir intelektual al-Thabari, tidak heran jika di waktu usia 7 tahun sudah hafal Al-Quran. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh al-Thabari Aku  telah  menghafal  al-Qur‘an  ketika  berusia  tujuh  tahun  dan menjadi imam shalat ketika aku berusia delapan tahun serta mulai menulis  hadis–hadis nabi pada usia sembilan tahun.

Abu Ja‘far al-Thabari (Sebutan Abu Ja‘far) bukanlah penisbatan, sebagaimana  budaya  Arab  tatkala  menyebut  nama  seorang  ayah  dengan  Abu Fulan. Abu Ja‘far adalah panggilan kehormatan bagi al-Thabari karena kebesaran dan kemuliaannya.5 al-Thabari mulai menuntut ilmu ketika ia berumur 12 tahun,  yaitu    pada tahun 236 hijriah di tempat kelahirannya. Setelah al-Thabari menuntut ilmu pengetahuan  dari  para  ulama-ulama  terkemuka  di  tempat  kelahirannya,  seperti kebiasaan ulama-ulama lain pada waktu itu Ibnu Jarir dalam menuntut ilmu pengetahuan mengadakan perjalanan kebeberapa daerah Islam.Dalam bidang sejarah dan Fiqih, al-T{abari berangkat menuju Baghdad untuk menemui Imam Ahmad bin Hambal, tetapi diketahui telah wafat sebelum Ibnu Jarir sampai di negeri tersebut, untuk itu perjalanan dialihkan menuju ke Kufah dan di negeri ini mendalami hadis dan ilmu-ilmu yang berkenaan dengannya. Kecerdasan dan kekuatan hafalannya telah membuat kagum ulama- ulama di negeri itu. Kemudian al-Thabari berangkat ke Baghdad di sana mendalami ilmu-ilmu al-Qur‘an dan fiqih Imam Syafi'i pada ulama-ulama terkemuka di negeri tersebut, selanjutnya berangkat ke Syam untuk mengetahui aliran-aliran fiqih dan pemikiran-pemikiran yang ada di sana. Kota Bagdad, menjadi domisili terakhir al-Thabari, sejumlah karya telah berhasil ia telurkan dan akhirnya wafat pada Senin, 27 Syawwal 310  H bertepatan dengan 17 Februari 923M. Kematiannya dishalati oleh  masyarakat Muhammad Bakr Isma‘il, Ibnu Jarir Wa Manhajuhu fi al-Tafsir.siang dan malam hari hingga beberapa waktu setelah wafatnya.8  Ia wafat pada usia 86 tahun, yaitu pada tahun 310 Hijriah.9 Imam al-T{abari juga sangat terkenal di Barat, biografinya pertama kali diterbitkan di Laiden pada tahun 1879-1910. 

Julius Welhousen menempatkan itu ketika membicarakan zaman (660-750) dalam buku The Arab Kingdom and its Fall.10 Yang lain, Ibn Khillikan berkata, la termasuk imam mujtahid dan tidak bertaklid kepada siapapun. Dan sebelum sampai ke tingkat mujtahid, tampaknya ia  pengikut madzhab Syafi'i. A1-Khathib berkata, la salah seorang ilmuwan terkemuka. Pendapatnya menjadi pendapat hukum dan menjadi rujukan karena pengetahuan dan keutamaannya. la telah menghimpun ilmu yang tiada duanya pada masanya.

Karir pendidikan diawali dari kampung halamannya Amil tempat yang cukup kondusif untuk membangun struktur fondamental awal pendidikan alThabari, al-T{abari diasuh oleh ayahnya sendiri, kemudian dikirim ke Rayy, Basrah, Kufah, Siria dan Mesir dalam rangka " travelling in quest of knowledge" (ar-Rihlah Talab A’jijm) dalam usia yang masih belia. Sehingga namanya bertambah populer di kalangan masyarakat karena otoritas keilmuannya. Di Rayy al-T{abari berguru kepada Ibnu Humaid, Abu Abdallah Muhammad bin Humaid al-Razi, disamping ia juga menimba ilmu dari al Musanna bin Ibrahim al-Ibili, khusus dibidang hadis.                                            

Baghdad berekpetasi untuk studi kepada Ahmad bin Hambal (164-241 H / 780 855 M), ternyata ia telah wafat, kemudian segera putar haluan menuju dua kota besar Selatan Baghdad, yakni Basrah dan Kufah, sambil mampir ke Wasit karena satu jalur perjalanan dalam rangka studi dan riset. Di Basrah al-Thabari berguru kepada Muhammad bin ' Abd al-A'la al-Shan'ani (w. 245 H / 859 M), Muhammad bin Musa al-Harasi (w. 248 H / 862 M) dan Abu al-As'as Ahnmad bin al-Miqdam (W. 253  H/867  M),  disamping  kepada  Abu  al-Jawza'  Ahmad  bin  Usman   (246/860). Khusus bidang tafsir al-Thabari berguru kepada seorang Basrah Humaid bin Mas'adah dan Bisr bin Mu'az al-'Aqadi (w. akhir 245 H / 859-860 M ), meski sebelumnya pemah banyak menyerap pengetahuan tafsir dari seorang Kufah 

Hannad bin al-Sari (w. 243 H / 857 M ).12  

2. Karya Al-Thabari 

Dalam dunia ilmu pengetahuan, al-T{abari terkenal tekun mendalami bidang-bidang ilmu yang dimilikinya, juga gigih dalam menambah ilmu pengetahuan. Sehingga dengan itu, banyak bidang ilmu yang dikuasainya. Di samping itu, al-Thabari mampu menuangkan ilmu-ilmu yang dikuasainya ke dalam bentuk tulisan. Kitab-kitab karangannya mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti: tafsir, hadis, fikih, tauhid, ushul fikih, dan ilmu-ilmu bahasa Arab, juga ilmu Kitab-kitab karya al-Thabari akan tetapi, tidak diperoleh informasi yang pasti berapa banyak buku yang pernah ditulisnya, Karena karya-karya al-Thabari tidak semuanya sampai ke tangan kita sekarang. Diperkirakan banyak karyanya yang berkaitan dengan hukum lenyap bersamaan dengan lenyapnya Madzhab Jaririyah.

Lewat karya tulisnya yang cukup banyak dan sebagian besar dalam bentuk kumpulan riwayat hadis dengan bahasa yang sangat indah, al-Thabari bukan saja terkenal seorang ilmuwan yang agung melainkan juga sebagai orang yang dikagumi berbagai pihak. Semua karya ilmiah al-Thabari yang diwariskan kepada kita, sebagian diketemukan dan sebagian yang lain belum diketemukan. 

Diantara karya-karyanya seperti; 

-  Adab al-Manasik,  

- Tarikh al-Umam wa al-Muluk atau kitab Ikhbar ar-Rasul al-Muluk.34 

- Jami‘ al-Bayan  An Ta‘wil Ay al-Qur‘an atau dikenal pula dengan Jami‘ al - Bayan  An Tafsir Ay al- Qur‘an . Kitab ini dicetak menjadi 30 juz di Kairo  pada tahun 1312 H. oleh al-Mathba‘ah al-Maimunah, kemudian dicetak kembali yang lebih bagus oleh al-Mathba‘ah al-Umairiyah antara tahun 1322- 1330 H. sebagaimana yang diterbitkan oleh Dar al-Ma‘arif Mesir edisi terbayang ditahqiq oleh Muhammad Mahmud Syakir .menjadi 15 jilid/ 

- Ikhtilaf Ulama‘ al-Amsar fi Ahkam Syara‘i al-Islam. Manuskrip ini ditemukan diperpustakaan Berlin. Kitab tersebut telah disebarluaskan oleh Doktor Frederick  dan dicetak oleh percetakan al-Mausu‘at di Mesir pada tahun 1320  H / 1902 M dengan jusul Ikhtilaf Fuqaha‘.

- Tahdzib  al-Asar 

wa  Tafsil  al - Sabitan  Rasulillah  min  al - Akbar, yang dinamakan oleh al-Qathi  dengan Syarh al-Asar. Dan masih banyak lagi kitab-kitab beliau yang tidak kami sebutkan  disini. Selain banyaknya bidang keilmuan yang disentuh, bobot karya-karya al- Thabari sangat dikagumi para ulama dan peneliti. Al-Hasan ibn Ali al-Ahwazi, ulama qira‘at, menyatakan, Abu Ja`far (Al-Thabari) adalah seorang ulama fiqih, hadits,  tafsir,  nahwu,  bahasa  dan  `arudh.  Dalam  semua  bidang  tersebut     dia melahirkan karya bernilai tinggi yang mengungguli karya para pengarang lain. 

B. Tafsir ( Jami‘ al - Bayan  An Ta‘wil Ay al - Qur‘an ) 

1. Sejarah Penulisan  

Kitab tafsir karya al-T{abari adalah Jami al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an adalah nama yang lebih masyhur, sedangkan nama yang diberikan oleh al-Thabari adalah Jami al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an, ditulis pada akhir kurun yang ketiga dan mulai mengajarkan kitab karangannya ini kepada para muridnya dari tahun 283 sampai tahun 290 hijriah.

Tafsir ini terdiri dari 30 juz yang masing-masing berjilid tebal dan besar, Kitab karya al-Thabari ini kemudian dicetak untuk pertama kalinya ketika beliau berusia 60 tahun ( 284 H/899 M ). Dengan terbitnya tafsir at- Thabari ini terbukalah khazanah  ilmu tafsir.                                  

Disebutkan bahwa  tafsir  Ibnu  Jarir  al-T{abari  ini  merupakan  tafsir yang  pertama di antara sekian banyak kitab-kitab tafsir pada abad-abad pertama, juga sebagai tafsir pertama pada waktu itu karena merupakan kitab tafsir yang  pertama yang diketahui, sedangkan kitab-kitab tafsir yang mungkin ada sebelumnya telah hilang ditelan peradaban waktu atau zaman.Syekh al-Islam Taqi ad-Din Ahmad bin Taimiyah pernah ditanya tentang tafsir yang manakah yang lebih dekat dengan al-Qur‘an dan As-Sunnah? Beliau menjawab bahwa di antara semua tafsir yang ada pada kita, tafsir Muhammad bin Jarir al-Thabari lah yang paling otentik.  

Seorang  pemikir  kontemporer  pun dari  Al-Jazair  M.  Arkoun  dalam   buku Berbagai Pembacaan al-Qur’an mengatakan tafsir al-Thabari ini telah mendapatkan kewenangan yang tiada tara baik di kalangan kaum muslimin maupun di kalangan Islamolog. al-Thabari telah mengumpulkan dalam sebuah karya monumental yang terdiri dari tiga puluh jilid, satu jumlah yang mengesankan dari Akhbar (sekaligus berita, cerita-cerita, tradisi-tradisi dan informasi-informasi) yang tersebar di timur tengah yang bersuasana Islam selama tiga abad hijriyah. Dokumen yang sangat penting bagi sejarah ini belum dijadikan obyek monografi apapun yang mengakhiri gambaran mengenai al-Thabari sebagai mufassir yang "rakus obyektif" dengan ketidak perduliaannya akan isi berita- berita yang diriwayatkannya.

Wallahua'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Curhatan sang butiran debu

  Bersinggah di bawah kaki Gunung Ciremai Perjalanan berawal ketika aku baru lulus sekolah menengah kejuruan atau setara dengan sekolah me...